Sebuah Gerakan

Ambil buku, matikan Gadgetmu !

#AmbilBuku,Matikan Gadgetmu! #AmBuMaGa2020#BulanBahasa#FLPOke#FLPSolo

Bulan Bahasa

Dalam rangka hari bulan bahasa dan sastra, saya pribadi sedikit tertantang tuk bikin challenge buat saya sendiri maupun teman-teman.

Info bulan bahasa dan sastra ini saya sendiri dapatkan dari teman-teman group FLP Solo.

Challenge atau tantangannya adalah masing-masing kita mentargetkan diri dalam bulan oktober ini dimulai 2 Oktober maupun sesudahnya sampai tanggal 31 Oktober 2020 untuk menyelesaikan dan mentargetkan membaca sebuah buku.

Tantangan yang tak mudah adalah bagaimana istiqomah atau konsisten untuk membaca setiap harinya berapa target halaman yang akan dibaca.

Sudah itu saja sebenarnya, tapi ada satu lagi yang akan bernilai plus dan itu jika tidak memberatkan teman-teman adalah membuat resume dan membagikannya di website, media sosial atau lainnya dalam bentuk tulis atau video.

Opsi kedua ini adalah tambahan buat teman-teman, sedangkan opsi kedua ini adalah kewajiban buat saya pribadi. Nah sekarang atau lebih tepatnya 30 hari kedepan saya akan mencoba melatih hal ini buat diri saya pribadi.

Lalu buku apa yang ingin saya habiskan tuk bulan ini, saya pilihkan pada satu buku yang tebal dan belum selesai juga setelah satu tahun membelinya.

buku ini

Pilihan itu jatuh pada buku “Hidup Sesudah Mati”, karya H. Bey Arifin. Sebuah buku yang telah membuka mata hati banyak orang tentang makna hidup yang sebenarnya. Buku ini 652 halaman jadi kurang 21,7 halaman atau saya bulatkan menjadi 25 halaman.

kalkulasinya

Awal mula yang membuat saya tertarik adalah salah satunya mungkin karena endorsment buku ini, begini bunyinya :

Suatu ketika, seorang pemimpin penerbit buku datang ke dokter gigi unutk berobat. Selesa berobat, ia ngobrol dengan sang dokter yang sudah berusia 75 tahun. Dari obrolan itu, dokter tahu kalau pasiennya adalaha seorang pemimpin penerbit. Kemudian dokter itu masuk keruangan lain mengambil sebuah buku. Dokter serahkan buku itu ke pasiennya sambil berkata, “Buku ini sudah merubah hidup saya, tolong terbitkan lagi supaya bisa merubah banyak orang menjadi lebih baik.”

Nah cerita sederhana itu membuat saya kembali diingatkan memori ketika era 1999 sd 2001 dimana ketika masa SMA itu saya ada satu waktu senang tuk membaca buku-buku yang mengingatkan tentang kematian.

Karena pikir saya waktu itu, sangat efektif membuat saya tersadar dan kembali ke jalan yang seharusnya dilakukan. Dan mungkin itu juga berlaku tuk saat ini. Setelah 20 tahun kemudian atau sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

menjadi sosok serba Pe..

1 October 2020