Teruntuk kamu yang tetap menulis ketika orang lain sudah berhenti menulis

Ahad kemarin (17 Februari 2019) kami sempat mendalami ilmu dan bertemu dengan mbak Asma Nadia. Termasuk penulis yang terkenal saat ini. Dani Ini menjadi pertemuan kedua kalinya dengan beliau. Pertemuan pertama terjadi di Yogyakarta sekitar tahun 2010 pas acara upgrading Nasional FLP.
Saat ketemu kali ini mbak Asma yang saya tangkap sangat berbeda dari yang dulu saya temui. Kedalaman ilmu kepenulisannya sangat terasa banget. Energinya, semangatnya bisa saya rasakan dahsyat. Hanya tak lebih 1 jam kami berdiskusi internal dengan teman-teman FLP Solo meskipun dalam prakteknya cuma beberapa menit saja yang efektif. Tapi dari beberapa menit itu dan ditengah saya harus momong ketiga buah hati, saya tetap mendapatkan energy luar biasa ini..
Kemudian saya bertanya kepada beliau tentang dua hal,
Pertama. “Mbak dari sekian ribu penulis, maka akan terjadi seleksi alam yang menjadikan hanya beberapa saja menjadi penulis hebat. Nah dari beberapa itu bisa lolos dari seleksi itu sebenarnya apa kuncinya?”
Konsistensi dan Doa. Mereka yang berhasil adalah mereka yang tetap Menulis ketika orang lain berhenti menulis. Itu sebenarnya yang membuat mereka berhasil. Saya itu ndak peduli apa yang dikatakan orang terhadap karya saya. Dikatakan Cemenlah dan sebagainya. Yang jelas banyak orang yang mendapatkan “petunjuk” dari membaca buku-buku saya. Jadi tetap menulis.
Dan tentu saja doa, banyak minta bantuan tolong Allah. Dikit2 dos.
Kedua “Pernah ndak mbak Asma merasakan kayak “Futur” menulis gitue?”
Kalau kita futur berarti kita belum menemukan Alasan yang kuat untuk menulis. Penulis yang punya alasan yang kuat tak akan futur menulis. Lalu apa alasan yang kuat itu?.Sederhana saja, kita ini banyak dosanya, apakah kita ndak mau dapat amalan yang akan terus mengalir sampai kita tiada. Yang mampu memasukkan kita kedalam surga. 
Ketika seseorang membaca tulisan kita dan mendapat hidayah, bukankan itu jadi pahala buat kita yang banyak dosanya. Dan itu akan terjadi walaupun kita telah tiada.
Jleeb…..dua hal ini sepertinya cukup buat saya. Cukuplah tuk banyak beralasan tuk tak menulis lagi.

Oh ya diawal beliau menyampaikan tentang masing-masing kita harus punya Target individu. Semisal tahun ini keluar buku, buku best seller, tahun berikutnya buku jadi film dan sebagainya. Karena pada akhirnya ini adalah kewajiban individu bukan komunitas. Dalam artian ketika sukses, dapat royalti dan sebagainya maka itu imbasnya adalah ke kita.
Sebenarnya banyak hal yang bisa didapatkan dari obrolan kemarin, tapi sayang tidak merekamnya jadi banyak yang terlewatkan. 
Oh ya terakhir beliau berpesan “Jangan pernah tinggalkan FLP”, Kang Abik, saya, mbak Helvy, dan lainnya melakukan hal seperti itu. meskipun kalian dianggap sudah hebat, terkenal. Karena toh sebenarnya semakin kita dianggap terkenal, hebat, sebenarnya justru kita akan rasakan bahwa kita ndak ada apa-apanya.

-Aris eldurra-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *